Arsip Blog

Jembatan Di Kota Enrekang

Sembari berkendara santai pagi hari keliling sekitar Kota Enrekang muncul keinginan meng’aktif’kan kembali blog Teropong Enrekang yang tidak dibuka-buka sejak artikel Gajah Sumatra Bermain Bola Di Sulawesi per 10 april 2011. Sekitar sekitar 16 bulan !!! tidak ada artikel/berita tentang Enrekang. Karena lamanya tidak disentuh sehingga perlu usaha lebih untuk mengaktifkan kembali account email yahoo dan mencoba berulang-ulang untuk mengingat username dan password wordpressnya. Alhamdulillah, rekam jejakku di Enrekang dapat kembali menapak di Blog ini.

Enrekang yang terbagi menjadi 12 kecamatan dan 129 wilayah desa/kelurahan berada memiliki topografi variasi perbukitan, pegunungan, lembah dan sungai dengan  ketinggian 47 sampai 3429 meter dari permukaan laut serta tidak memiliki wilayah pantai.  84,96% dari seluruh wilayah di Enrekang perbukitan dan pegunungan mendominasi( https://adsafainana.wordpress.com/2010/06/02/kabupaten-enrekang/)

Pegunungan latimojong yang memanjang dari arah utara ke selatan dengan rata-rata ketinggian 3000 meter memagari bagian timur wilayah enrekang, sedangkan bagian barat membentang sungai saddang. Sungai Saddang yang termasuk sungai terpanjang di sulawesi memiliki panjang 150 km memiliki Daerah Aliran Sungai di Tana Toraja, Enrekang, Polewali Mandar dan Pinrang.  Kota Enrekang dilalui dua buah sungai, yaitu  Sungai Saddang dan Sungai Mata”allo dimana kedua sungai tersebut menyatu di derah Massemba Enrekang.

Keberadaan Jembatan Di Kota Enrekang tentu sangat vital berhubung kedua sungai besar tersebut membelah bagian-bagian Enrekang. Terdapat 3 Jembatan yang saat ini difungsikan masyarakat, yaitu Jembatan Gantung yang dibangun pada jaman penjajahan Belanda dan Jembatan ‘Baru’ yang tidak baru lagi melintang di atas DAS Mata’allo, serta Jembatan Penja yang melintang panjang di atas Sungai Saddang.

Jembatan Gantung

Jembatan Gantung yang melintang diatas Sungai Mata’allo tersebut dibangun pada jaman penjajahan Belanda. Kondisi saat ini hanya diperuntukkan khusus pejalan kaki, selain karena lebar terbatas dimana hanya 1 kendaraan roda empat dapat melintas juga bagian-bagian jembatan sudah tua sehingga kebijakan tersebut untuk memelihara dan menjaga agar jembatan bersejarah tersebut berumur lama.

Rumah Dinas Ketua DPRD, Wakil Bupati & Masjid Agung

Di bagian barat berdekatan dengan rumah jabatan Bupati, Ketua DPRD dan Wakil Bupati Enrekang dan Masjid Agung, sedangkan dibagian timur berdekatan dengan Kantor KPU dan Lapangan Abu Bakar Lambogo.

KPU Enrekang

Jembatan yang kedua adalah Jembatan ‘Baru’. Jembatan ‘Baru’ yang sudah lama ini dibangun sekitar tahun 1990-an dengan pertimbangan Jembatan ‘Lama’ atau jembatan gantung sudah terbatas kemampuannya. Masyarakat Enrekang umum sebagian besar masih menyebut jembatan ini dengan  Jembatan ‘Baru’ walaupun sudah tidak baru lagi.

Jembatan ‘Baru’

Berjarak sekitar 600 m dari jembatan gantung, bagian barat jembatan berdekatan dengan Bank BRI dan Masjid Taqwa Muhammadiyah Enrekang sedangkan di bagian Timur berdekatan dengan Dinas Dikpora dan Pesantren Modern Darul Falah Enrekang.

Pesantren Modern Darul Falah & Dinas Dikpora

Saat ini jembatan ‘baru’ inilah sebagai jalur utama lintas sulawesi melalui Enrekang menuju Tana Toraja, dan Sulawesi Tengah.

Sungai Saddang Di Penja

Jembatan Penja sekarang ini merupakan jembatan terpanjang di Enrekang karena melintang lurus diatas sungai Saddang. Berada di pinggiran barat kota Enrekang menghubungkan ke daerah mambura Enrekang dan batulappa Pinrang. Jembatan penja cenderung sepi karena bukan berada di lintas utama kendaraan antar kabupaten/propinsi, namun sangat bermanfaat bagi masyarakat dalam perdagangan dan pengangkutan hasil bumi. Kumadang, adalah sebuag kampung terdekat dengan jembatan tersebut dari sisi jembatan sebelah timur sedangkan mambura adalah kampung terdekat di sebelah barat jembatan. Pada pagi dan sore hari, akan nampak anak muda dan mudi menikmati suasana jembatan sambil beraktivitas. Salah satunya adalah balapan motor atau sekedar duduk mengobrol di tepi jembatan.

Aktivitas Anak-anak  Di Jembatan Penja

Jembatan ‘Baru’ yang sudah lamapun suatu saat barangkali tidak menjadi jalur utama lagi bagi kendaraan lintas sulawesi yang melintas di Kota Enrekang. Pemerintah Daerah Kabupaten Enrekang barangkali sudah mempertimbangkan ‘usia’ dan ‘kemampuan’ jembatan yang sebelumnya terbatas dan juga untuk merangsang pengembangan kota serta perekonomian daerah.

Pondasi Jembatan Keppe-Galung

Menancap pondasi bagian timur jembatan di daerah Keppe dan jembatan melintang diatas Sungai Mata’allo menuju di daerah galung Enrekang. Jalanan lebar yang baru dipersiapkan menyusuri tepian Sungai Saddang yang Indah.

Jalan Baru Di Tepi Sungai Saddang

View Enrekang dari Bukit Mata Dewa, nampak jelas Sugai Saddang dari kejauhan. Ditepian Sungai itulah jalan baru dibuat dan tembus di Talaga Enrekang

View Enrekang dari Bukit Mata Dewa, Berkelok Sungai Saddang Di Kejauhan

Jalan Tembus Di Talaga

Potensi Wisata Lokal Enrekang akan bisa tumbuh bila jalanan sepanjang Sungai Saddang ini dapat dikelola dan diatur dengan fasilitas rekreasi atau istirahat dengan kuliner lokal yang sehat.

Geliat Enrekang Di Ahad Pagi

Kota Enrekang, sebuah kota kecil yang dibelah sungai mata’allo pada ahad pagi mulai menggeliat pelan memulai aktivitas. Sejak dini hari mulai nampak aktivitas utamanya di pasar sentral enrekang. Pasar Sentral Enrekang memiliki hari pasaran pada hari senin dan kamis, tetapi pada hari selain hari pasar pasar dari pintu selatan  mulai di pinggir jalan sampai pertengahan kompleks pasar ramai transaksi jual beli terutama pada hari ahad.

Para karyawan, pegawai dan ibu rumah tangga sebagian yang menginginkan rileks pada hari minggu cenderung membeli sayur atau jajanan di pasar yang memang menyediakan kebutuhan tersebut .  Angkutan motor, mobil dan truk pengangkut terkadang harus berebutan untuk mempercepat laju pengiriman atau pengambilan barang di jalan jalur selatan pasar yang tidak begitu lebar.

Dibeberapa sudut kota  belum nampak aktivitas yang berarti, sebagian besar masih beraktivitas di dalam dan di sekitar rumah masing-masing. Pagi ini cuaca cerah, setelah sejak sore dan malam terus diguyur hujan. Cerahnya hari menarik minat saya untuk menengok beberapa lokasi agak pinggir. Saya coba melalui jalanan pintas dari talaga ke bamba.

Suara binatang memecah kesunyian pegunungan dan lebatnya pepohonan. Dari atas view kota enrekang terlihat sebagian karena tertutupi rindang pepohonan , terlihat alur sungai saddang dan  rumah warga.

Di jalur poros  perempatan dekat masjid Taqwa Muhamadiyah Enrekang  arus lalu lintas masih nampak sepi, maklum hari libur kerja.

Cerahnya mentari membuat panorama enrekang dengan latar belakang perbukitan semakin  tajam gambarnya dan enak untuk dilihat.  Terlebih saat melalui ‘jembatan baru’ yang sebenarnya tidak baru. Ada dua jembatan yang membentang diatas sungai mata’allo di kota enrekang. Yang jembatan lama adalah jembatan kayu gantung yang dibangun pada jaman belanda, sedangkan ‘jembatan baru’ dibangun masa kemerdekaan.

Sungai mata’allo yang airnya kecoklatan oleh lumpur dari pegunungan karena hujan seharian kemarin sore sampai malam tidak mengurangi oleknya pemandangan.

Kabupaten Enrekang

Kabupaten Enrekang merupakan salah satu Kabupaten di Propinsi Sulawesi Selatan yang memiliki luas wilayah 1.786,01 km² ( 4,29% dari luas Wilayah Sulawesi Selatan) dan berpenduduk sebanyak ±190.579 jiwa.  Kabupaten Enrekang terletak antara 3º 14’36” LS dan 119º40’53” BT. Jarak dari ibukota Provinsi Sulawesi Selatan (Makassar) ke kota Enrekang dengan jalan darat sepanjang 235 Km.

Batas-batas daerah  Kabupaten Enrekang, sebagai berikut :
Sebelah Utara adalah  Kabupaten Tana Toraja
Sebelah Selatan adalah  Kabupaten Sidenreng Rappang
Sebelah Barat adalah  Kabupaten Pinrang
Sebelah Timur adalah  Kabupaten Luwu dan Sidenreng Rappang.

Kabupaten Enrekang dengan ibukota Enrekang terletak ± 235 Km sebelah utara Makassar. Terletak pada koordinat antara 3o 14’ 36” sampai 03o 50’ 00” Lintang Selatan dan 119o 40’ 53” sampai 120o 06’ 33” Bujur Timur.Batas wilayah kabupaten ini adalah sebelah utara berbatasan dengan Kabupaten Tana Toraja, sebelah timur dengan Kabupaten Luwu dan Sidrap, sebelah selatan dengan Kabupaten Sidrap dan sebelah barat dengan Kabupaten Pinrang.

Kabupaten ini pada umumnya mempunyai wilayah Topografi yang bervariasi berupa perbukitan, pegunungan, lembah dan sungai dengan ketinggian 47 – 3.293 m dari permukaan laut serta tidak mempunyai wilayah pantai. Secara umum wilayah Kabupaten Enrekang didominasi oleh bukit-bukit/gunung-gunung yaitu sekitar 84,96% dari luas wilayah Kabupaten Enrekang sedangkan yang datar hanya 15,04%. Terdapat dua gunung yang berada diwilayah Enrekang, yaitu Gunung Latimojong yang berada di perbatasan Enrekang, Sidrap dan Luwu memiliki tinggi 3.305 meter dan Gunung Rante Mario berada di wilayah Enrekang dan Luwu dengan ketinggian 3.470 meter.

Ditinjau dari segi sosial budaya, masyarakat Kabupaten Enrekang memiliki kekhasan tersendiri. Hal tersebut disebabkan karena kebudayaan Enrekang (Massenrempulu’), berada di antara kebudayaan Bugis, Mandar dan Tana Toraja. Bahasa daerah yang digunakan di Kabupaten Enrekang, secara garis besar terbagi atas 3 bahasa dari 3 rumpun etnik yang berbeda di Massenrempulu’. 3 bahasa tersebut adalah Bahasa Duri, Enrekang dan Maiwa. Bahasa Duri dituturkan oleh penduduk di Kecamatan Alla’, Baraka, Malua, Buntu Batu, Masalle, Baroko, Curio, dan sebagian penduduk di Kecamatan Anggeraja. Bahasa Enrekang dituturkan oleh penduduk di Kecamatan Enrekang, Cendana, dan sebagian penduduk di Kecamatan Anggeraja. Bahasa Maiwa dituturkan oleh penduduk di Kecamatan Maiwa dan Kecamatan Bungin.

Teropong Enrekang

Keinginan menulis dan mengabarkan tentang daerah yang saya tinggali akhirnya ter”media”si oleh Blog ini. Teropong Enrekang, sebuah blog yang mencoba untuk merekam aktivitas masyarakat dan keindahan alamnya. sekian ..dan bersambung