Jembatan Di Kota Enrekang

Sembari berkendara santai pagi hari keliling sekitar Kota Enrekang muncul keinginan meng’aktif’kan kembali blog Teropong Enrekang yang tidak dibuka-buka sejak artikel Gajah Sumatra Bermain Bola Di Sulawesi per 10 april 2011. Sekitar sekitar 16 bulan !!! tidak ada artikel/berita tentang Enrekang. Karena lamanya tidak disentuh sehingga perlu usaha lebih untuk mengaktifkan kembali account email yahoo dan mencoba berulang-ulang untuk mengingat username dan password wordpressnya. Alhamdulillah, rekam jejakku di Enrekang dapat kembali menapak di Blog ini.

Enrekang yang terbagi menjadi 12 kecamatan dan 129 wilayah desa/kelurahan berada memiliki topografi variasi perbukitan, pegunungan, lembah dan sungai dengan  ketinggian 47 sampai 3429 meter dari permukaan laut serta tidak memiliki wilayah pantai.  84,96% dari seluruh wilayah di Enrekang perbukitan dan pegunungan mendominasi( http://adsafainana.wordpress.com/2010/06/02/kabupaten-enrekang/)

Pegunungan latimojong yang memanjang dari arah utara ke selatan dengan rata-rata ketinggian 3000 meter memagari bagian timur wilayah enrekang, sedangkan bagian barat membentang sungai saddang. Sungai Saddang yang termasuk sungai terpanjang di sulawesi memiliki panjang 150 km memiliki Daerah Aliran Sungai di Tana Toraja, Enrekang, Polewali Mandar dan Pinrang.  Kota Enrekang dilalui dua buah sungai, yaitu  Sungai Saddang dan Sungai Mata”allo dimana kedua sungai tersebut menyatu di derah Massemba Enrekang.

Keberadaan Jembatan Di Kota Enrekang tentu sangat vital berhubung kedua sungai besar tersebut membelah bagian-bagian Enrekang. Terdapat 3 Jembatan yang saat ini difungsikan masyarakat, yaitu Jembatan Gantung yang dibangun pada jaman penjajahan Belanda dan Jembatan ‘Baru’ yang tidak baru lagi melintang di atas DAS Mata’allo, serta Jembatan Penja yang melintang panjang di atas Sungai Saddang.

Jembatan Gantung

Jembatan Gantung yang melintang diatas Sungai Mata’allo tersebut dibangun pada jaman penjajahan Belanda. Kondisi saat ini hanya diperuntukkan khusus pejalan kaki, selain karena lebar terbatas dimana hanya 1 kendaraan roda empat dapat melintas juga bagian-bagian jembatan sudah tua sehingga kebijakan tersebut untuk memelihara dan menjaga agar jembatan bersejarah tersebut berumur lama.

Rumah Dinas Ketua DPRD, Wakil Bupati & Masjid Agung

Di bagian barat berdekatan dengan rumah jabatan Bupati, Ketua DPRD dan Wakil Bupati Enrekang dan Masjid Agung, sedangkan dibagian timur berdekatan dengan Kantor KPU dan Lapangan Abu Bakar Lambogo.

KPU Enrekang

Jembatan yang kedua adalah Jembatan ‘Baru’. Jembatan ‘Baru’ yang sudah lama ini dibangun sekitar tahun 1990-an dengan pertimbangan Jembatan ‘Lama’ atau jembatan gantung sudah terbatas kemampuannya. Masyarakat Enrekang umum sebagian besar masih menyebut jembatan ini dengan  Jembatan ‘Baru’ walaupun sudah tidak baru lagi.

Jembatan ‘Baru’

Berjarak sekitar 600 m dari jembatan gantung, bagian barat jembatan berdekatan dengan Bank BRI dan Masjid Taqwa Muhammadiyah Enrekang sedangkan di bagian Timur berdekatan dengan Dinas Dikpora dan Pesantren Modern Darul Falah Enrekang.

Pesantren Modern Darul Falah & Dinas Dikpora

Saat ini jembatan ‘baru’ inilah sebagai jalur utama lintas sulawesi melalui Enrekang menuju Tana Toraja, dan Sulawesi Tengah.

Sungai Saddang Di Penja

Jembatan Penja sekarang ini merupakan jembatan terpanjang di Enrekang karena melintang lurus diatas sungai Saddang. Berada di pinggiran barat kota Enrekang menghubungkan ke daerah mambura Enrekang dan batulappa Pinrang. Jembatan penja cenderung sepi karena bukan berada di lintas utama kendaraan antar kabupaten/propinsi, namun sangat bermanfaat bagi masyarakat dalam perdagangan dan pengangkutan hasil bumi. Kumadang, adalah sebuag kampung terdekat dengan jembatan tersebut dari sisi jembatan sebelah timur sedangkan mambura adalah kampung terdekat di sebelah barat jembatan. Pada pagi dan sore hari, akan nampak anak muda dan mudi menikmati suasana jembatan sambil beraktivitas. Salah satunya adalah balapan motor atau sekedar duduk mengobrol di tepi jembatan.

Aktivitas Anak-anak  Di Jembatan Penja

Jembatan ‘Baru’ yang sudah lamapun suatu saat barangkali tidak menjadi jalur utama lagi bagi kendaraan lintas sulawesi yang melintas di Kota Enrekang. Pemerintah Daerah Kabupaten Enrekang barangkali sudah mempertimbangkan ‘usia’ dan ‘kemampuan’ jembatan yang sebelumnya terbatas dan juga untuk merangsang pengembangan kota serta perekonomian daerah.

Pondasi Jembatan Keppe-Galung

Menancap pondasi bagian timur jembatan di daerah Keppe dan jembatan melintang diatas Sungai Mata’allo menuju di daerah galung Enrekang. Jalanan lebar yang baru dipersiapkan menyusuri tepian Sungai Saddang yang Indah.

Jalan Baru Di Tepi Sungai Saddang

View Enrekang dari Bukit Mata Dewa, nampak jelas Sugai Saddang dari kejauhan. Ditepian Sungai itulah jalan baru dibuat dan tembus di Talaga Enrekang

View Enrekang dari Bukit Mata Dewa, Berkelok Sungai Saddang Di Kejauhan

Jalan Tembus Di Talaga

Potensi Wisata Lokal Enrekang akan bisa tumbuh bila jalanan sepanjang Sungai Saddang ini dapat dikelola dan diatur dengan fasilitas rekreasi atau istirahat dengan kuliner lokal yang sehat.

Gajah Sumatra Bermain Bola Di Sulawesi

Cerita manusia versus gajah sumatera telah menjadi kisah klasik, di mana gajah menjadi ”aktor” antagonisnya. Lagi-lagi, kesan itulah yang muncul dalam kasus terakhir. Peran antagonis itu melekat lantaran gajah-gajah itu merusak kebun kelapa sawit dan karet, dianggap mengganggu kenyamanan dan mengancam keselamatan warga di permukiman. Sebenarnya amukan gajah terkait erat dengan konversi hutan-hutan primer dan sekunder yang adalah habitatnya. Konversi hutan/lahan terus dibuka lebar dengan alasan investasi dan permukiman warga. Kebun sawit bermunculan di mana-mana. Khusus pembukaan lahan di Sumatera, permasalahan muncul karena lokasi perkebunan dan permukiman warga yang dibuka itu sebelumnya merupakan jalur jelajah gajah untuk mencari makan. Secara naluriah, gajah memiliki kemampuan mengingat jalur yang harus mereka lalui menuju lumbung makanan.Secara kebetulan pula, gajah menyukai daun kelapa sawit dan kulit pohon karet yang ditanam di kebun yang masuk area jelajahnya. Tak pelak, stigma gajah sebagai hama makin kuat.


Populasi gajah sumatera tersebar di Lampung, Bengkulu, Riau, Jambi, Sumatera Barat, dan Sumatera Utara. Data tahun 2000, dari sekitar 2.000 ekor populasi gajah sumatera, sekitar 500 di antaranya hidup di hutan-hutan di kawasan Riau.

Adapun statusnya, gajah sumatera tergolong terancam punah dan dilindungi. Pada tahun 1980-an, Konvensi Internasional Perdagangan Spesies Flora dan Fauna yang Terancam Punah (CITES) memasukkannya dalam Appendix I. Artinya, sama sekali tidak boleh diperdagangkan kecuali untuk kepentingan ilmiah.

Gajah  Main Bola

Merupakan daya tarik tersendiri gajah sumatra akhirnya berkesempatan berkunjung ke Sulawesi, tepatnya di Kabupaten Enrekang. Gajah-gajah terlatih dari WayKambas tersebut unjuk kebolehan dengan bermain bola, berjoget, mengalungkan piala, berakrobatik dan lain sebagainya.

Masyarakat Enrekang yang kebanyakan barusan melihat gajah seolah baru menyadari ternyata memang gajah itu besar…Antusiasme warga terlihat begitu banyaknya penonton yang masuk ke lokasi pertunjukan di Lapangan Abu Bakar Lambogo Enrekang.

Geliat Enrekang Di Ahad Pagi

Kota Enrekang, sebuah kota kecil yang dibelah sungai mata’allo pada ahad pagi mulai menggeliat pelan memulai aktivitas. Sejak dini hari mulai nampak aktivitas utamanya di pasar sentral enrekang. Pasar Sentral Enrekang memiliki hari pasaran pada hari senin dan kamis, tetapi pada hari selain hari pasar pasar dari pintu selatan  mulai di pinggir jalan sampai pertengahan kompleks pasar ramai transaksi jual beli terutama pada hari ahad.

Para karyawan, pegawai dan ibu rumah tangga sebagian yang menginginkan rileks pada hari minggu cenderung membeli sayur atau jajanan di pasar yang memang menyediakan kebutuhan tersebut .  Angkutan motor, mobil dan truk pengangkut terkadang harus berebutan untuk mempercepat laju pengiriman atau pengambilan barang di jalan jalur selatan pasar yang tidak begitu lebar.

Dibeberapa sudut kota  belum nampak aktivitas yang berarti, sebagian besar masih beraktivitas di dalam dan di sekitar rumah masing-masing. Pagi ini cuaca cerah, setelah sejak sore dan malam terus diguyur hujan. Cerahnya hari menarik minat saya untuk menengok beberapa lokasi agak pinggir. Saya coba melalui jalanan pintas dari talaga ke bamba.

Suara binatang memecah kesunyian pegunungan dan lebatnya pepohonan. Dari atas view kota enrekang terlihat sebagian karena tertutupi rindang pepohonan , terlihat alur sungai saddang dan  rumah warga.

Di jalur poros  perempatan dekat masjid Taqwa Muhamadiyah Enrekang  arus lalu lintas masih nampak sepi, maklum hari libur kerja.

Cerahnya mentari membuat panorama enrekang dengan latar belakang perbukitan semakin  tajam gambarnya dan enak untuk dilihat.  Terlebih saat melalui ‘jembatan baru’ yang sebenarnya tidak baru. Ada dua jembatan yang membentang diatas sungai mata’allo di kota enrekang. Yang jembatan lama adalah jembatan kayu gantung yang dibangun pada jaman belanda, sedangkan ‘jembatan baru’ dibangun masa kemerdekaan.

Sungai mata’allo yang airnya kecoklatan oleh lumpur dari pegunungan karena hujan seharian kemarin sore sampai malam tidak mengurangi oleknya pemandangan.

Kemarau Basah Di Enrekang

Sampai saat ini, di Enrekang dan di wilayah Indonesia masih diguyur hujan, baik yang intensitasnya rendah sampai tinggi. Rekaman kondisi pada Jum’at sore di Lewaja tergambar derasnya hujan di enrekang dan bertambahnya volume air sungai.

Menurut BMKG penyebabnya adalah meningkatkan suhu permukaan laut di Indonesia sehingga banyak uap yang terbentu, pengaruh pemanasan global, dan dampak El nino yang menambah massa upa air. Setiap jum’at pengelola Kolam Renang Lewaja dikuras, dan diganti air sehingga diharapkan kejernihan dan kebersihan air terjaga.

Pengunjung juga sepi, dan sebuah mobil parkir barangkali dari luar kota dengan beberapa orang yang menunggu di tribun.

 

Banjir Di Enrekang

Beberapa hari terakhir hujan di Enrekang terbilang deras. Rabu pagi sampai malam hujan mengguyur dengan lebat dan  air sungai Mata Allo yang membelah kota semakin naik dan deras. Ba’da shalat magrip dan isya’ melalui loudspeaker di beberapa masjid di Kota Enrekang diumumkan agar masyarakat waspada dengan datangnya banjir. Hal tersebut patut dilakukan mengingat banjir terjadi tiap tahunnya di Enrekang.


Banjir besar terparah terjadi pada 1987 yang menelan satu korban jiwa lalu tahun 2005 dan 2007.Pada tahun 2007, tepatnya Rabu dini hari, 11 April kurang lebih 3 tahun berlalu, meski tidak ada korban jiwa dalam peristiwa ini, namun sejumlah perkantoran serta sekolah-sekolah  terendam banjir, seperti dinas pendidikan, dinas perindustrian dan perekonomian daerah, kantor pariwisata, dinas pertamanan dan kebersihan, kantor kejaksaan, kantor pos, badan kependudukan dan keluarga berencana, SMAN 1, SMK PGRI, SDN 41, SDN 172 dan sejumlah sekolah dasar lainnya. Kawasan yang paling parah terendam banjir adalah pasar sentral Enrekang dan kantor dinas pendidikan. Genangan air di kawasan ini mencapai ketinggian 3 meter lebih.  Jumlah Kepala Keluarga yang menjadi korban banjir saat itu kurang lebih 1.500 KK. Akibat banjir tersebut arus lalulintas di jalan provinsi Kota Enrekang, lumpuh total selama kurang lebih 8 jam, bersamaan dengan perayaan hari pers nasional di Enrekang.


Banjir tahun 2010 tidak sebesar tahun 2007, setelah pemerintah melakukan revitalisasi ulang sungai saddang sehingga banjir tidak berakibat yang lebih buruk, namun demikian beberapa sekolah yang berada di dataran rendah terendam juga dan beberapa kawasan lainnya.

Puncak banjir kamis dini hari  dan berangsur surut saat matahari semakin tinggi dan aktivitas warga kembali normal termasuk beberapa pertandingan olahraga dan seni dalam  Porseni Pelajar tingkat SMP/M.Ts dan SMA/SMK/MA Se-Kabupaten Enrekang.

Pada foto 1 nampak aliran air pada sungai Mata Allo yang sudah menyentuh bibir tanggul bagian atas. Dan sungai Mata Allo akan meluap kalau alirannya terhalang oleh banjirnya sungai Saddang. Pada foto 2  tumpahan air sungai Mata Allo di jalan Pancaitana Bungawalie, tepatnya di belakang Pesantren Modern Darul Falah Enrekang. Sedangkan foto 3 banjir yang menggenangi jalan Pancaitana Bungawalie di depan Kantor Dinas Dikpora.

Derasnya arus air, dipantau dari jalanan belakang BRI Cabang Enrekang. Nampak dikejauhan SDN 172 Enrekang dan Hotel Bumi Raya.

Porseni Pelajar Kab. Enrekang 2010

Sebanyak 56 sekolah madrasah berpartisipasi mengikuti Porseni Pelajar  Tingkat SMP/M.Ts dan SMA/SMK/MA se-Kabupaten Enrekang yang dibuka sore tadi. Luar biasa, karena baru pertama kali diadakan dalam rangka memeriahkan HUT Kemerdekaan Republik Indonesia sehingga sekolah/madrasah yang jauh dari kota Enrekang harus menginap bahkan ada kontingen yang mengontrak rumah untuk satu pekan !

Defile Kontingen diawali barisan Drumband dari Pesantren Modern Darul Falah Enrekang.  Pesantren Modern Darul Falah Enrekang merupakan satu-satunya lembaga pendidikan yang memiliki fasilitas drumband, bahkan termasuk  pilihan kegiatan ekstrakurikuler bagi santri di Pondok ini. Diikuti oleh para santriwati dengan bendera merah putih sebagai penggembira menjadikan acara pembukaan Porseni Pelajar 2010 lebih hidup karena selama kontingen dari berbagai sekolah/madrasah berjalan iringan drumband  setia mengiringi dari sudut lapangan.

Silaturahmi, persahabatan dan memupuk jiwa sportivitas menjadi slogan utama dari berbagai sekolah.  Berbaur sekolah dari puncak gunung, tengah kota dan dari tepi sungai yang kesemuanya akan membuktikan yang terbaik melalui sebuah pertandingan.

Sepak Takraw, sebuah cabang olahraga yang mungkin sangat lekat dengan kehidupan masyarakat sulawesi selatan. terutama di daerah pedesaan. Dengan daerah yang didominiasi pegunungan dengan banyaknya rotan yang tumbuh, bola takraw bukanlah barang mahal. Inilah cabang olahraga yang nanti saya merantau ke sulawesi baru saya lihat.

Dibuka secara resmi oleh Bapak Wakil Bupati Enrekang, pertandingan demi pertandingan akan dimulai esok hari dan disinilah wadah unjuk  kekuatan ; kekuatan koordinasi, kekuatan strategi, kekuatan mental sportivitas dan menumbuhkan persaudaraan persahabatan antar siswa, santri, dan guru serta masyarakat termasuk lingkungannya.

Selamat Bertanding Para Siswa dan Santri !

Pa’bambangan Na Macca, Dan Entrepreneur

Kucari-cari koran langganan untuk mengetahui berita hari ini. Ada harian Fajar yang belum sempat saya baca juga, tertanggal 13 Juli 2010. Ada yang menarik dari catatan Syamsu Nur di halaman 1. Menariknya karena saya teringat  media cetak dan TV seringkali menayangkan aksi demo mahasiswa di Makassar yang cenderung anarkis., atau bahkan perkelahian antar jurusan/fakultas dlam satu kampus ! yang seharusnya mereka berkompetisi dalam bidang yang relevan.  Dari keprihatianan kondisi dan menariknya ulasan Syamsu Nur, terlebih Yusuf Kalla saya posting artikel dari Harian Fajar tersebut berikut.


Jusuf Kalla memang selalu menarik. Ide-ide dan logikanya menerjemahkan suatu masalah sangat masuk akal. Maka ketika dia berbicara di Gedung Graha Pena, Sabtu 10 Juli lalu, 500 peserta seminar sangat merasa puas. Seminar diselenggarakan Harian Fajar dalam rangkaian ulang tahun ketiga Graha Pena Makassar, dengan tema “Membangun jiwa entrepreneurship sejak mahasiswa”.

Mahasiswa Makassar terkenal dengan demonstrasinya yang sering anarkis, telah menjadi bahan ejekan di mana-mana. Kendati kegiatan seperti ini ada hubungan dengan jiwa keras, karakter dari suku Bugis Makassar, namun dampak negatif selalu saja muncul. Karena itu kalimat yang selalu diucapkan sebagai ejekan adalah pa’bambangang na tolo, yang artinya semangat keras dan tolol, perlu dicermati. Apakah itu ada relevansinya?

Pada dasarnya pa’bambangang adalah sifat atau karakter suku Bugis Makassar yang memang dimiliki sejak dari nenek moyang. Ini, menurut Jusuf Kalla, susah diubah. Sama susahnya mengubah karakter orang Jawa yang kalem dan tenang. Kalau diterjemahkan, kata pa’bambangang maka artinya, semangat keras, inovasi, kerja cepat dalam mencapai tujuan.

Karena itu pa’bambangang bisa punya arti positif. Semangat ini penting bagi seorang enterpreneur, yaitu semangat mau maju, semangat untuk melakukan inovasi. Maka kata pa’bambangang bisa kita jadikan kekuatan bagi suku Bugis Makassar.

Tapi pa’bambangang na tolo harus diubah menjadi pa’bambangang na macca yang artinya semangat keras dan pintar. Semangat keras itu ada waktunya dibutuhkan. Ketika Jusuf Kalla menangani perdamaian Aceh, ia kadang bersikap keras. Yang namanya pa’bambangang muncul juga. Saat GAM berkeras mau merdeka, Jusuf Kalla dengan tegas mengatakan, kalau begitu kita “perang 100 tahun”. GAM tidak mau mundur dan menyatakan “baik, kita perang 100 tahun.”

Sesudah jabat tangan pertanda setuju “perang 100 tahun”, Jusuf Kalla mengingatkan, perang seratus tahun itu terjadi di Aceh, berarti korban yang banyak adalah rakyat Aceh. Pihak GAM berpikir, kemudian berkata “kalau begitu, kita bicara damai.” Di sini Jusuf ternyata mempraktikkan pa’bambangang na macca. Satu sisi dia bersikap keras, tapi satu sisi dia menggunakan akal kepintaran. Maka berkat pa’bambangang na macca dicapailah perdamaian Aceh.

Ketika semasa mahasiswa, Jusuf Kalla bersama Alwi Hamu, dan Aksa Mahmud, sudah mempraktikkan semangat pa’bambangang na macca. Ia sering memimpin demo, sering bersuara keras, kritiknya tajam tapi mengena. Argumentasinya kuat dan beralasan. Dan yang penting, tidak anarkis. Ia akhirnya bersama teman-temannya banyak dikenal. Dia punya banyak relasi, memiliki hubungan yang luas. Dan ini menguntungkan dan menjadi modal untuk menjadi entrepreneur.

Kalau menjadi pa’bambangang na tolo, kita dijauhi orang dan sulit dipercaya. Sifat ini tidak menguntungkan jadi entrepreneur. Itu memberi dampak negatif yang membuat kita akan jauh dari keberhasilan. engalaman dan kisah Jusuf Kalla ini sangat menarik. Perlu diresapi bahwa pa’bambangang na macca hendaknya dikembangkan. Karakter kita, suku Bugis Makassar, yang pa’bambangang atau sifat dan karakter kerasnya itu perlu diarahkan menjadi kekuatan yang berguna, bermanfaat bagi kemajuan. Maka sifat sinis yang diarahkan ke Sulsel selama ini, pada akhirnya kita harapkan bisa membangkitkan semangat berubah. Semangat meninggalkan pa’bambangan na tolo menjadi pa’bambangan na macca. Dan kemajuan pastilah akan diraih sekiranya berbarengan dengan itu, muncul juga banyak tokoh yang selalu berpikiran sehat common sense seperti Jusuf Kalla. (*)

Sumber : Catatan Syamsu Nur, Fajar 13 Juli 2010

Pemandian Alam Lewaja

Salah Obyek wisata di Kabupaten Enrekang yang menarik adalah Pemandian Alam Lewaja. Dari pertigaan depan Rumah Sakit Massenrempulu menuju ke utara melalui Jalam Jendral Sudirman yang merupakan kompleks pendidikan, mulai Kantor Dinas Dikpora, Pesantren Modern Darul Falah, SMA/MA Muhammadiyah, SMPN 1, SMAN 1 melawati Lapangan Abu Bakar Lambogo di Batili.

Dari Lapangan Batili ” Abu Bakar Lambogo” lanjut ke utara timur menuju dusun kuku’ dengan jalanan berliku diantara sawah dan latar pegunungan hijau. Indahnya pemandangan yang memikat tetap harus mewaspadai jalanan sempit yang tidak rata dan berliku.

Bulan lalu bertempat di stadion Massenrempulu diselenggarakan Habibie Cup, even sepakbola yang diikuti kesebelasan dari berbagai kabupaten di sulawesi selatan dan propinsi tetangga. Enrekang dalam penyelenggaraan ini sukses sebagai tuan rumah dan sukses sebagai Juara I.

Mendekati pemandian alam lewaja kita disuguhi pemandangan yang menarik berupa air terjun di sisi utara timur jalam, kurang lebih 500 meter dari pemandian.  Ini air terjun yang berada diluar kompleks pemandian Lewaja, yang muncul dan kelihatan dari jalan pada saat musim penghujan sedang pada musim kemarau kurang begitu kelihatan dari jalanan

Memasuki Komplek pemandian Lewaja, terdapat kolam renang yang sumber airnya berasal dari pegunungan disekitar lokasi, air pegunungan yang bersih dan segar. Terdapat beberapa fasilitas penunjang kolam renang antara lain, ruang penonton (Tahun 2009 lalu menjadi tuan rumah porda renang sulsel), ruang ganti, tribun utama yang cukup luas, lapangan futsal, papan lompat, papan luncur bagi anak-anak, penyedia makanan ringan dan bakso.

Pemandian alam yang berupa air terjun yang sering dikunjungi warga masyarakat utamanya anak-anak muda adalah air terjun dibagian dalam kompleks dicelah pegunungan melalui jalan setapak kurang lebih 1 km dari kolam renang.  Sisi kanan bukit dan sisi kiri lembah/jurang pengunjung harus ekstra hati-hati selain sempit juga seringkali jalanan licin. Di air terjun sinilah biasanya warga masyarakat berendam di kolam yang berada dibawah air terjun disela-sela bebatuan yang besar.

Erotic Mountain (Gunung Nona)

Topografi Kabupaten Enrekang umumnya variasi dari perbukitan, pegunungan, lembah dan sungai dengan ketinggian 47 – 3.293 m dari permukaan laut serta tidak mempunyai wilayah pantai. Secara umum wilayah Kabupaten Enrekang didominasi oleh bukit-bukit/gunung-gunung yaitu sekitar 84,96% dari luas wilayah Kabupaten Enrekang sedangkan yang datar hanya 15,04%. Terdapat dua gunung yang berada diwilayah Enrekang, yaitu Gunung Latimojong yang berada di perbatasan Enrekang, Sidrap dan Luwu memiliki tinggi 3.305 meter dan Gunung Rante Mario berada di wilayah Enrekang dan Luwu dengan ketinggian 3.470 meter. Gua, gunung, sungai, dan air terjun. Semua ada di bumi Enrekang.

Kabupaten yang terletak antara kilometer 196 ~ 281 di utara kota Makassar ini, menjadi salah satu alternatif daerah yang harus dikunjungi jika ke Sulawesi Selatan. Salah satu gunung yang terkenal di daerah ini adalah Gunung Buttu Kabobong. Gunung ini terkenal karena bentuknya yang unik, menyerupai kelamin manusia. Gunung yang kerap pula disebut Gunung Nona ini bisa disaksikan dari pinggir jalan raya, saat menuju kota Enrekang.

Di daerah ini juga terdapat Gunung Bambapuang yang memiliki ketinggian 1.157 meter di atas permukaan laut. Jika beruntung, anda bisa menyaksikan panorama sunrise dan sunset yang memukau dari lereng gunung ini. Saat itu, bola matahari yang berwarna kemerahan tampak begitu jelas. Di lereng gunung ini pula, terdapat sejumlah bunker milik tentara Jepang.

Menurut mitos dan legenda yang diyakini masyarakat setempat, Gunung Bambapuang adalah tempat dimana pemerintahan dan peradaban manusia di Sulawesi Selatan, bermula. Tempat itu persisnya berada di Lura Bambapuang, salah satu kawasan yang dialiri Sungai Saddang — sungai terpanjang di Pulau Sulawesi.

Orang-orang Bugis menghormati tempat tersebut dan menyebutnya tana rigalla tana riabbusungi (negeri suci yang dihormati). Bahkan hingga kini, masyarakat Toraja yang merupakan tetangga dari daerah ini, selalu menyerahkan sekerat daging bagi leluhurnya di Bambapuang setiap kali mereka menggelar pesta.

Kabupaten Enrekang

Kabupaten Enrekang merupakan salah satu Kabupaten di Propinsi Sulawesi Selatan yang memiliki luas wilayah 1.786,01 km² ( 4,29% dari luas Wilayah Sulawesi Selatan) dan berpenduduk sebanyak ±190.579 jiwa.  Kabupaten Enrekang terletak antara 3º 14’36” LS dan 119º40’53” BT. Jarak dari ibukota Provinsi Sulawesi Selatan (Makassar) ke kota Enrekang dengan jalan darat sepanjang 235 Km.

Batas-batas daerah  Kabupaten Enrekang, sebagai berikut :
Sebelah Utara adalah  Kabupaten Tana Toraja
Sebelah Selatan adalah  Kabupaten Sidenreng Rappang
Sebelah Barat adalah  Kabupaten Pinrang
Sebelah Timur adalah  Kabupaten Luwu dan Sidenreng Rappang.

Kabupaten Enrekang dengan ibukota Enrekang terletak ± 235 Km sebelah utara Makassar. Terletak pada koordinat antara 3o 14’ 36” sampai 03o 50’ 00” Lintang Selatan dan 119o 40’ 53” sampai 120o 06’ 33” Bujur Timur.Batas wilayah kabupaten ini adalah sebelah utara berbatasan dengan Kabupaten Tana Toraja, sebelah timur dengan Kabupaten Luwu dan Sidrap, sebelah selatan dengan Kabupaten Sidrap dan sebelah barat dengan Kabupaten Pinrang.

Kabupaten ini pada umumnya mempunyai wilayah Topografi yang bervariasi berupa perbukitan, pegunungan, lembah dan sungai dengan ketinggian 47 – 3.293 m dari permukaan laut serta tidak mempunyai wilayah pantai. Secara umum wilayah Kabupaten Enrekang didominasi oleh bukit-bukit/gunung-gunung yaitu sekitar 84,96% dari luas wilayah Kabupaten Enrekang sedangkan yang datar hanya 15,04%. Terdapat dua gunung yang berada diwilayah Enrekang, yaitu Gunung Latimojong yang berada di perbatasan Enrekang, Sidrap dan Luwu memiliki tinggi 3.305 meter dan Gunung Rante Mario berada di wilayah Enrekang dan Luwu dengan ketinggian 3.470 meter.

Ditinjau dari segi sosial budaya, masyarakat Kabupaten Enrekang memiliki kekhasan tersendiri. Hal tersebut disebabkan karena kebudayaan Enrekang (Massenrempulu’), berada di antara kebudayaan Bugis, Mandar dan Tana Toraja. Bahasa daerah yang digunakan di Kabupaten Enrekang, secara garis besar terbagi atas 3 bahasa dari 3 rumpun etnik yang berbeda di Massenrempulu’. 3 bahasa tersebut adalah Bahasa Duri, Enrekang dan Maiwa. Bahasa Duri dituturkan oleh penduduk di Kecamatan Alla’, Baraka, Malua, Buntu Batu, Masalle, Baroko, Curio, dan sebagian penduduk di Kecamatan Anggeraja. Bahasa Enrekang dituturkan oleh penduduk di Kecamatan Enrekang, Cendana, dan sebagian penduduk di Kecamatan Anggeraja. Bahasa Maiwa dituturkan oleh penduduk di Kecamatan Maiwa dan Kecamatan Bungin.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.